Tuesday, August 28, 2018

Resensi Buku Menggugat Historiografi Indonesia

A. Identitas Buku
  • Judul Buku          : Menggugat Historiografi Indonesia
  • Penulis Buku       : Bambang Purwanto dan Asvi Warman Adam
  • Penerbit               : Penerbit Ombak
  • Tahun Terbit        : 2013
  • Jumlah Halaman : 124 Halaman
  • Nomor Edisi        : ISBN: 987-602-258-007-2


B. Sinopsis

Akhir-akhir ini,  sejarawan Indonesia harus menghadapi kenyataan adanya gugatan terhadap konstruksi sejarah Indonesia yang mereka bangun selama ini. Berbagai konstruk dan konsep yang selama ini dipahami sebagai kebenaran tidak lagi dapat diterima oleh masyarakat yang telah memiliki jiwa zaman yang berbeda. Oleh karena itu, tidak heran jika ada yang berpendapat bahwa historiografi Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan atau bahkan berada di ujung tanduk.
Hal itu nampaknya berkaitan erat dengan kenyataan bahwa hampir lima puluh tahun setelah para perintis penulisan sejarah Indonesia meletakkan dasar filosofis dan metodologis dalam kajian sejarah Indonesia, tradisi historiografi Indonesia yang ada selama ini dianggap tetap belum mampu membangun citra dirinya sebagai tradisi  keilmuan yang benar-benar dibanggakan dan diapresiasikan masyarakat secara umum sebagai sebuah media pencerahan.
Sebaliknya, historiografi Indonesia lebih sering dianggap sebagai beban yang menjerumuskan dan bagian dari sebuah sistem yang mengakibatkan berkembangnya cara berpikir yang sempit. Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi itu, sejarawan akademik merupakan salah satu unsur yang sangat berperan dalam pembentukan tradisi historiografi yang digugat itu, dan penulis merupakan salah satu orang yang ada di dalamnya.
Dari sekian banyak realitas historiografi yang ada, salah satu contoh klasik dari sebuah kesalahan yang terus dianggap sebagai kebenaran baik oleh masyarakat umum maupun sejarawan akademik adalah sejarah Presiden Republik Indonesia dan kepala pemerintahan lainnya. Jika Soekarno dianggap sebagai presiden Indonesia yang pertama, maka anaknya Megawati Sukarnoputri selalu dihitung sebagai presiden yang kelima. Padahal selain dua nama yang telah disebutkan tadi bersama-sama Soeharto, B.J. Habibie, dan Abdurrahman Wahid, bukti-bukti menunjukkan bahwa sebenarnya ada dua nama lain, yaitu Sjafrudin Prawiranegara dan Assaat yang dapat dikategorikan sebagai presiden dalam sejarah Republik Indonesia, jika sejarah dilihat sebagai proses. Sementara itu dalam konteks yang lain, para kepala pemerintahan yang terdiri dari para perdana menteri sejak dari Sutan Syahrir sampai Djuanda yang seolah-olah hilang tidak berbekas dalam memori historiografis bangsa Indonesia saat ini.
Berdasarkan pengalam itu, tidak mengeherankan jika ada pendapat yang mengatakan dunia sejarah Indonesia saat ini sebenarnya cenderung berjalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang secara konseptual dan metodologis. Hal itu sekaligus menunjukkan sebuah kenyataan bahwa para sejarawan Indonesia tidak pernah belajar dari sejarahnya sendiri. Struktur keilmuan yang telah dibangun dengan baik sebelumnya oleh para perintis, ternyata tidak terus dikembangkan mengikuti kemajuan ilmu sejarah secara umum dan perubahan paradigmatik dari waktu ke waktu, baik karena alasan akademik maupun sosio-kultural. Historiografi yang dihasilkan sejarawan Indonesia tertinggal puluhan tahun dibandingkan dengan tulisan tentang sejarah Indonesia yang dilakukan oleh para penulis asing.


C. Kelebihan Buku

Secara fisik, buku ini dicetak dengan cover dan kertas yang bagus. Menarik untuk dibaca karena mengungkap beberapa pendapat yang saling bertententangan namun bukan berarti kedua pendapat tersebut salah ataupun benar. 


D. Kekurangan Buku

Buku ini penuh dengan tulisan tanpa adanya gambar, terkadang membuat sebagian pembaca tidak tertarik karena terkesan membosankan. Penggunaan diksi yang terlalu tinggi membuat sebagian pembaca sulit memahami. Target pembaca adalah orang dewasa, tidak mencakup semua umur.

Sumber : Buku "Menggugat Historiografi Indonesia" dari Perpustakaan UNY

SITUS WEB UNY
http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.ac.id

Sunday, August 26, 2018

Harga Vespa dari Limbah Kayu karya Anak Bangsa Menuai Pro dan Kontra

Siapa sih yang tidak kenal kendaraan satu ini? Vespa adalah sepeda motor yang di produksi oleh raksasa otomotif yaitu Piaggio. Mulai dari angkatan tua sampai yang angkatan muda, Vespa masih memiliki daya tarik tersendiri di hati masyarakat. Menurut beberapa sumber, Indonesia merupakan pengguna Vespa terbanyak kedua setelah Italia. Artinya, bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia apabila mendengar kata Vespa.

Di Indonesia, banyak sekali scooterist yang sangat kreatif. Dan akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa salah satu modifikasi vespa karya anak bangsa dihargai senilai 1,9 Milyar Rupiah. Angka yang sangat fantastis bukan? Dilansir dari salah satu acara televisi, vespa ini merupakan satu-satu nya di dunia. Karya anak bangsa, yang mendunia!

Lantas apa yang membuat Vespa ini begitu mahalnya? Bahkan angka 1,9 Milyar bukanlah harga yang ditawarkan dari sang pemilik, angka tersebut adalah harga yang ditawarkan oleh calon pembeli. Hebat bukan?

Eri Ashari, adalah pemilik dari vespa tersebut. Berasal dari Lembang, Bandung. Dia membuat body Vespa dari bahan limbah kayu. Maka dari itu, memang Vespa yang satu ini benar-benar limited edition. Bahkan, proses mengumpulkan limbah kayu tersebut selama 2 tahum! Lah itu aja baru ngumpulin limbah lur! Kabarnya, limbah kayu yang digunakan adalah limbah pensil kayu. Total limbah yang dikumpulkan selama 2 tahun adalah 65 juta pensil.

Nah, dalam hal ini menuai pro dan kontra. Ada yang benar-benar menghargai, ada yang mengatakan bahwa merugi apabila membeli vespa tersebut. Harga 1,9 Milyar ternyata bukanlah penawaran dari orang dalam negeri, namun penawaran peminat dari luar negeri. Salah seorang yang berasal dari Venezuela ingin sekali membeli Vespa karya anak bangsa ini dengan nominal 130.000 Euro (1,9M). Dan lucunya, orang dalam negeri pun ada yang menawar tetapi hanya dalam nominal 3Juta Rupiah. Lucu atau ngenes? Orang luar negeri begitu mengapresiasi karya anak bangsa, sedangkan anak bangsa? Apa yang kita lakukan?

Terlepas dari pro kontra, bukankah sebaiknya kita sebagai anak bangsa lebih menghargai? Menghargai bukan berarti membeli kan? Bukan malah mengatakan "untuk apa membeli barang seperti itu, 10juta pun saya gak mau". Berkomentar memang mudah, tak lebih dari 2 menit kita sudah bisa berkomentar. Tetapi karya tersebut, membutuhkan waktu minimal 2 tahun. Jika memang benar-benar tidak suka, bukankah lebih baik diam saja? Bukan malah berkomentar negatif? Ini karya Anak Bangsa, akan lebih baik jika kita pun merasa bangga. Ada dua hal dalam suatu karya, yaitu bagus, dan sangat bagus. Tidak ada kata jelek, buruk, dll.

Kabarnya, pemilik belum mau menjualnya karena akan menghadiri acara Vespa di Yogyakarta. Bagaimana menurut kalian? Tulis komentar kalian di kolom komentar.

Saturday, August 25, 2018

My Journey To Jogja, City of Education

Sebelum aku menulis perjalananku hingga ke Jogja, aku ingin mengingatkan bahwa kisah ini bukan semata-mata untuk menyombongkan diri, namun hanya sekedar motivasi. Ambil saja nilai positif, nilai negatif tinggalkan. Maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Enjoy my story :)


Aku, lahir tanggal 3 April 2000 di Kota Metro, Lampung (yang tercatat di akta sih gitu, aku mah gak inget soalnya dulu masih bayi :v). Aku bukan terlahir dari keluarga kalangan atas, yang mampu memiliki segalanya. Bukan keluarga yang bisa mengatakan "besok mau makan apa?", namun aku hanya bisa mengatakan "besok apa yang mau dimakan". Namun bukan berarti aku ingin meminta belas kasihan orang-orang disekitarku. Menabung sudah menjadi hal yang biasa ketika aku ingin mendapatkan sesuatu.

Masa sekolahku terkesan biasa saja, sama seperti kebanyakan anak pada umumnya. Saat lulus SD, aku pernah bingung mencari SMP karena nilai Ujian Nasional pas-pasan. Bahkan bapakku pernah meminta tolong tetangga yang merupakan staff di salah satu SMP, namun apa jawaban tetangga kepada bapakku? Dia berkata "anakmu apa bisa masuk sini dengan nilai segitu?". Kata-kata yang menghantam, menyiksa batin. Karena SMP tersebut memang Negeri, maka masuknya wajib menggunakan nilai Ujian Nasional. Akhirnya aku malah nekat mendaftar di SMP Negeri yang pada saat itu berlabel 'RSBI' (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Kenapa aku malah daftar di SMP tersebut? Karena disana tidak menggunakan nilai Ujian Nasional sebagai satu-satunya syarat masuk, namun ada tes-tes lain yang harus dilakukan untuk bisa masuk. Finally, aku bisa masuk SMP yang lebih baik. Dan bapakku? Bisa bangga ketika bertemu tetanggaku yang tadi :D

Dimasa SMP, aku bukan siswa yang berprestasi, karena memang siswa yang masuk disana diseleksi secara ketat. Alhasil, sainganku adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih. Aku berada di lingkungan sekolah yang baik, cara pandang yang kritis, membuatku terbiasa. Kujalani masa SMP dengan senang hati, hingga lulus.

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan ke jenjang SLTA. Terjadi perbedaan pendapat antara kedua orang tuaku. Di salah satu pihak ingin aku lanjut ke SMA, di pihak lain ingin aku melanjutkan ke SMK. Namun pada akhirnya tetap mengikuti kemauanku, karena aku yang menjalani. Aku berdiskusi, tidak lupa meminta maaf kepada salah satu orang tuaku karena kemauannya tak bisa kupenuhi. Apa yang aku pilih? Aku memilih masuk ke SMK. Dengan berbagai pertimbangan, salah satunya apabila aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah aku masih memiliki skill untuk langsung turun ke dunia kerja.

Aku melanjutkan ke salah satu SMK di Kota Metro, terakreditasi A, dengan jurusan Teknik Otomotif. Dan ada banyak cerita yang sulit dilupakan saat masa SMK. Mungkin orang-orang benar apabila mengatakan apabila masa indah adalah masa SLTA, karena aku pun merasakannya.
Awal masuk, berkenalan dengan teman baru, dimana pada saat angkatanku memang 100% siswa laki. Mungkin terlihat gersang, tapi kami kompak dalam berbagai hal. Satu hal yang mengerikan, aku masuk di kelas yang semula jumlah siswa nya 31. Namun ketika kelulusan, kelasku tinggal 19 siswa. Mungkin karena peraturan yang terlalu ketat, atau tidak sesuai dengan hati, banyak teman-temanku yang memutuskan untuk pindah sekolah ketika tahun pertama maupun tahun kedua.
Flashback sejenak, lingkunganku di SMP yang seperti diatas aku ceritakan tadi, membuatku berada di puncak kejayaan ketika SMK :v Why? Aku terbiasa belajar hal-hal rumit, banyak materi SMK yang ternyata sudah diajarkan di SMP, kecuali mata pelajaran kejuruan. Alhasil? 6 semester dari awal masuk sampai lulus aku selalu mendapat juara 1 di kelas. Awalnya hanya karena apa? Ya, omongan tetangga :D Dan akibat dari langganan ranking 1 di kelas, aku sering mendapat beasiswa untuk biaya sekolah di SMK. Setengah dari total biaya sekolahku, dibiayai oleh beasiswa.

Dan menjelang kelulusan, banyak sekali bursa kerja yang masuk ke SMK ku. Menawarkan pekerjaan yang menarik, dengan fasilitas yang baik, dan sebagainya. Dan aku terpikir untuk lanjut kuliah. Aku berkonsultasi ke banyak guru, ada yang mendukung dan ada yang menjatuhkan. Bahkan ada yang sampai menyakiti hati sampai saat ini. Beliau mengatakan "Untuk apa kamu kuliah? Kamu itu SMK, kamu dibentuk untuk siap belerja. Kalau kamu kuliah, kamu kalah disaat mendaftar, saingan kamu itu anak-anak SMA yang memang diarahkan ke jenjang lebih tinggi. Tes masuknya, lebih dominan pelajaran SMA, kamu bisa apa?". Seperti itu kira-kira perkataan salah satu guru ku. Tapi aku tetap memaksa untuk kuliah. Aku pun berdiskusi lagi dengan kedua orang tuaku, meminta masukan, karena apapun itu pasti akan lebih baik ketika ada dukungan orang tua.
Kembali lagi, ada perbedaan pendapat diantara mereka. Salah satu menginginkan aku bekerja, di pihak lain menginginkan aku kuliah. Dan semua bergantung di pilihanku, aku memilih untuk kuliah. Aku nekat, aku bersikeras, aku berangkat ke Yogyakarta. Bahkan pengumuman kelulusan dai SMK belum ada, acara perpusahan tidak aku ikuti, aku sudah kabur. Bahkan sampai saat ini aku belum sempat untuk pulang ke Lampung :)

Sebelumnya, aku memang sudah mendaftar di salah satu universitas di Yogyakarta dengan jalur SNMPTN. Tetapi aku gagal, maka dari itu aku melanjutkan ke jalur SBMPTN dengan panlok Yogyakarta.

Di Yogyakarta, aku belajar soal-soal SBMPTN dari internet, buku-buku referensi, soal-soal dari tahun ke tahun. Dan memang, aku pun kaget membaca soal tersebut :v soal yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Namun aku terus berusaha, selama 2 minggu aku belajar dengan sistem kejar target karena memang itu menjelang ujian SBMPTN.

Akhirnya tiba saat ujian SBMPTN, aku bersiap dan berangkat pagi agar tidak terlambat dan menghindari ramainya lalu lintas. Aku dapat lokasi ujian di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Berdoa, berusaha, dan tawakal. Kukerjakan hanya sebagian soal-soalnya aku bisa, yang tidak bisa aku kosongkan. Karena aku tidak mau masuk kuliah karena asal pilih, keberuntungan, gamble, apabila aku tidak masuk berarti memang aku tidak pantas. Padahal, pada tahun ku SBMPTN, tidak ada sistem pengurangan nilai. Tapi aku tidak mau memaksakan sampai-sampai asal pilih jawaban.

Selesai SBMPTN aku menunggu di Jogja sampai pengumuman. Seperti pengangguran ku jalani hari-hari sambil menunggu pengumuman.

Sampai akhirnya datang hari dimana pengumuman hasil seleksi diumumkan. Aku sempat negative thinking dengan hasilnya, aku pun sudah siap untuk ditertawakan guru ku di SMK dulu. Dan aku buka pengumuman SBMPTN, ternyata aku berhasil masuk di Universitas Negeri Yogyakarta. Salah satu universitas yang banyak diperebutkan bukan hanya di Yogyakarta, tapi diperebutkan di Indonesia. Senang, sedih, semua bercampur jadi satu.
Lalu aku menelpon ayahku dirumah, dengan air mata bahagia aku masih sempat bercanda dengan keluarga ku di kampung. Seperti ini kira kira pembicaraanku dengan ayahku di telpon

  • Aku    : Assalamualaikum, Pak. Maaf ya pak kayanya aku gak bisa pulang. Aku pengen disini                 aja, aku males mau pulang ke Lampung. Disini aku betah pak.
  • Bapak : Loh, kenapa? Aneh-aneh aja kamu itu. Ngapain kamu disana, pulang!
  • Aku    : Ya gimana mau pulang pak, aku mau ngurus segala keperluan di kampus. Soalnya aku                keterima di UNY.
  • Bapak : *ntah kaget, ntah speechless, ntah apa pokoknya teridam. Alhamdullah nak, gak sia-                 sia perjuanganmu.
Ya, aku akhirnya masuk Universitas Negeri Yogyakarta dan mengambil jurusan Pend. Teknik Otomotif. Satu jalan dengan latar belakangku di SMK yang Teknik Otomotif. Dan ini semua karena apa? Karena omongan guru ku yang sadis tadi :v
Dan aku, adalah satu-satunya siswa dari SMK tersebut yang berhasil masuk universitas di Yogyakarta, yang dijuluki sebagai Kota Pendidikan. Sendirian di kota ini kadang membuatku sedih :v

Sekarang aku sedang menjalani kuliah, bahasa kerennya masih maba, masih pemanasan dulu di tempat baru. Banyak mengenal orang-orang baru, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebenarnya apa yang ingin ku sampaikan pada perjalananku kali ini? Mungkin kata-kata yang sudah pasaran sih, yaitu jangan balas ejekan dengan amarah, namun buktikan dengan realita. Bayangkan apabila aku hancur saat daftar SMP? Dan bayangkan lagi apabila nanti aku kembali ke Lampung dan bertemu guru SMK yang sempat mengatakan aku takkan mampu masuk universitas negeri yang ada di Yogyakarta? Bully semacam ini kadang membuat seseorang menjadi lebih baik, ingin membuktikan. Dan dalam hidup pasti ada lika-liku, gak selalu mulus. Jangan terlalu menyerah dengan keadaan, keadaan itu kita sendiri yang menciptakan.

Iya memang kuliah tidak menjamin kesuksesan, tapi ada pula hal positif yang bisa kita ambil. Kakakku pernah berkata, "kuliah memang gak jamin sukses, gak jamin kamu kaya. Tapi kamu punya pengalaman, yang gak dimiliki orang-orang yang tidak kuliah. Kamu juga pasti kerja kan? Bayangkan ketika kamu reuni nanti, kamu bercerita tentang kerja, mereka akan nyambung karena kalian semua bekerja. Tapi ketika kamu bercerita tentang kuliah? Gak semua temenmu akan nyambung, pasti nanti akhirnya pembicaraan akan diarahkan lagi ke topik pekerjaan".

Salah satu pertimbanganku memilih kuliah karena pada tahun 2017, Badan Statistik menyatakan bahwa pengangguran lebih banyak di lulusan SMK dibanding lulusan SMA. Karena apa? SMK memang mencetak generasi siap kerja, namun sarana prasarana yang ada di sekolah masih belum memadai. Contoh, aku SMK jurusan Otomotif, praktik di sekolah lebih cenderung ke mesin yang masih konvensional, sedangkan tuntutan saat ini adalah pekerja yang menguasai sistem diatas konvensional seperti EFI, Hybrid, bahkan sekarang mulai dikembangkan lagi mobil listrik. Lantas apa yang terjadi pada lulusan SMK yang hanya sebatas mempelajari sistem konvensional? Ya nilai sendiri lah ya.

Meskipun ijazahmu nanti tak sesuai  dengan apa pekerjaanmu, tapi setidaknya ijazahmu adalah nilai tambah untuk membuatmu lebih unggul dibandingkan dengan yang lain :)

Mungkin hanya singkat yang bisa aku ceritakan, ambil saja apa yang positif, aku hanya mencoba untuk menjadi orang yang sedikit bermanfaat bagi sekitar. Dan pesan untuk teman-teman, semangat terus untuk mencapai cita-cita. Keep moving forward, tapi jangan cuma maju datar, tapi maju dan meningkat.

Dan untuk kedua orang tuaku, ridhoi perjalananku. Takkan ku sia siakan kesempatan ini. Aku pasti pulang, dan membuat kalian tersenyum :)
Dan untuk teman-temanku yang di Lampung, jangan tunggu aku pulang. Mari kita kejar impian kita masing-masing. Yang kuliah, semangat kuliahnya. Yang kerja, semangat kerjanya. Ayo kita berjuang, aku berdoa dari kejauhan, kalian aja yang gak tau :v

Akhirul kata, aku sang Kreator Kotor, pamit undur diri. Tunggu artikelku selanjutnya ya :)

Resensi Buku Menggugat Historiografi Indonesia

A. Identitas Buku Judul Buku          : Menggugat Historiografi Indonesia Penulis Buku       : Bambang Purwanto dan Asvi Warman Adam Pen...