Aku, lahir tanggal 3 April 2000 di Kota Metro, Lampung (yang tercatat di akta sih gitu, aku mah gak inget soalnya dulu masih bayi :v). Aku bukan terlahir dari keluarga kalangan atas, yang mampu memiliki segalanya. Bukan keluarga yang bisa mengatakan "besok mau makan apa?", namun aku hanya bisa mengatakan "besok apa yang mau dimakan". Namun bukan berarti aku ingin meminta belas kasihan orang-orang disekitarku. Menabung sudah menjadi hal yang biasa ketika aku ingin mendapatkan sesuatu.
Masa sekolahku terkesan biasa saja, sama seperti kebanyakan anak pada umumnya. Saat lulus SD, aku pernah bingung mencari SMP karena nilai Ujian Nasional pas-pasan. Bahkan bapakku pernah meminta tolong tetangga yang merupakan staff di salah satu SMP, namun apa jawaban tetangga kepada bapakku? Dia berkata "anakmu apa bisa masuk sini dengan nilai segitu?". Kata-kata yang menghantam, menyiksa batin. Karena SMP tersebut memang Negeri, maka masuknya wajib menggunakan nilai Ujian Nasional. Akhirnya aku malah nekat mendaftar di SMP Negeri yang pada saat itu berlabel 'RSBI' (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Kenapa aku malah daftar di SMP tersebut? Karena disana tidak menggunakan nilai Ujian Nasional sebagai satu-satunya syarat masuk, namun ada tes-tes lain yang harus dilakukan untuk bisa masuk. Finally, aku bisa masuk SMP yang lebih baik. Dan bapakku? Bisa bangga ketika bertemu tetanggaku yang tadi :D
Dimasa SMP, aku bukan siswa yang berprestasi, karena memang siswa yang masuk disana diseleksi secara ketat. Alhasil, sainganku adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih. Aku berada di lingkungan sekolah yang baik, cara pandang yang kritis, membuatku terbiasa. Kujalani masa SMP dengan senang hati, hingga lulus.
Setelah lulus SMP, aku melanjutkan ke jenjang SLTA. Terjadi perbedaan pendapat antara kedua orang tuaku. Di salah satu pihak ingin aku lanjut ke SMA, di pihak lain ingin aku melanjutkan ke SMK. Namun pada akhirnya tetap mengikuti kemauanku, karena aku yang menjalani. Aku berdiskusi, tidak lupa meminta maaf kepada salah satu orang tuaku karena kemauannya tak bisa kupenuhi. Apa yang aku pilih? Aku memilih masuk ke SMK. Dengan berbagai pertimbangan, salah satunya apabila aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah aku masih memiliki skill untuk langsung turun ke dunia kerja.
Aku melanjutkan ke salah satu SMK di Kota Metro, terakreditasi A, dengan jurusan Teknik Otomotif. Dan ada banyak cerita yang sulit dilupakan saat masa SMK. Mungkin orang-orang benar apabila mengatakan apabila masa indah adalah masa SLTA, karena aku pun merasakannya.
Awal masuk, berkenalan dengan teman baru, dimana pada saat angkatanku memang 100% siswa laki. Mungkin terlihat gersang, tapi kami kompak dalam berbagai hal. Satu hal yang mengerikan, aku masuk di kelas yang semula jumlah siswa nya 31. Namun ketika kelulusan, kelasku tinggal 19 siswa. Mungkin karena peraturan yang terlalu ketat, atau tidak sesuai dengan hati, banyak teman-temanku yang memutuskan untuk pindah sekolah ketika tahun pertama maupun tahun kedua.
Flashback sejenak, lingkunganku di SMP yang seperti diatas aku ceritakan tadi, membuatku berada di puncak kejayaan ketika SMK :v Why? Aku terbiasa belajar hal-hal rumit, banyak materi SMK yang ternyata sudah diajarkan di SMP, kecuali mata pelajaran kejuruan. Alhasil? 6 semester dari awal masuk sampai lulus aku selalu mendapat juara 1 di kelas. Awalnya hanya karena apa? Ya, omongan tetangga :D Dan akibat dari langganan ranking 1 di kelas, aku sering mendapat beasiswa untuk biaya sekolah di SMK. Setengah dari total biaya sekolahku, dibiayai oleh beasiswa.
Dan menjelang kelulusan, banyak sekali bursa kerja yang masuk ke SMK ku. Menawarkan pekerjaan yang menarik, dengan fasilitas yang baik, dan sebagainya. Dan aku terpikir untuk lanjut kuliah. Aku berkonsultasi ke banyak guru, ada yang mendukung dan ada yang menjatuhkan. Bahkan ada yang sampai menyakiti hati sampai saat ini. Beliau mengatakan "Untuk apa kamu kuliah? Kamu itu SMK, kamu dibentuk untuk siap belerja. Kalau kamu kuliah, kamu kalah disaat mendaftar, saingan kamu itu anak-anak SMA yang memang diarahkan ke jenjang lebih tinggi. Tes masuknya, lebih dominan pelajaran SMA, kamu bisa apa?". Seperti itu kira-kira perkataan salah satu guru ku. Tapi aku tetap memaksa untuk kuliah. Aku pun berdiskusi lagi dengan kedua orang tuaku, meminta masukan, karena apapun itu pasti akan lebih baik ketika ada dukungan orang tua.
Kembali lagi, ada perbedaan pendapat diantara mereka. Salah satu menginginkan aku bekerja, di pihak lain menginginkan aku kuliah. Dan semua bergantung di pilihanku, aku memilih untuk kuliah. Aku nekat, aku bersikeras, aku berangkat ke Yogyakarta. Bahkan pengumuman kelulusan dai SMK belum ada, acara perpusahan tidak aku ikuti, aku sudah kabur. Bahkan sampai saat ini aku belum sempat untuk pulang ke Lampung :)
Sebelumnya, aku memang sudah mendaftar di salah satu universitas di Yogyakarta dengan jalur SNMPTN. Tetapi aku gagal, maka dari itu aku melanjutkan ke jalur SBMPTN dengan panlok Yogyakarta.
Di Yogyakarta, aku belajar soal-soal SBMPTN dari internet, buku-buku referensi, soal-soal dari tahun ke tahun. Dan memang, aku pun kaget membaca soal tersebut :v soal yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Namun aku terus berusaha, selama 2 minggu aku belajar dengan sistem kejar target karena memang itu menjelang ujian SBMPTN.
Akhirnya tiba saat ujian SBMPTN, aku bersiap dan berangkat pagi agar tidak terlambat dan menghindari ramainya lalu lintas. Aku dapat lokasi ujian di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Berdoa, berusaha, dan tawakal. Kukerjakan hanya sebagian soal-soalnya aku bisa, yang tidak bisa aku kosongkan. Karena aku tidak mau masuk kuliah karena asal pilih, keberuntungan, gamble, apabila aku tidak masuk berarti memang aku tidak pantas. Padahal, pada tahun ku SBMPTN, tidak ada sistem pengurangan nilai. Tapi aku tidak mau memaksakan sampai-sampai asal pilih jawaban.
Selesai SBMPTN aku menunggu di Jogja sampai pengumuman. Seperti pengangguran ku jalani hari-hari sambil menunggu pengumuman.
Sampai akhirnya datang hari dimana pengumuman hasil seleksi diumumkan. Aku sempat negative thinking dengan hasilnya, aku pun sudah siap untuk ditertawakan guru ku di SMK dulu. Dan aku buka pengumuman SBMPTN, ternyata aku berhasil masuk di Universitas Negeri Yogyakarta. Salah satu universitas yang banyak diperebutkan bukan hanya di Yogyakarta, tapi diperebutkan di Indonesia. Senang, sedih, semua bercampur jadi satu.
Lalu aku menelpon ayahku dirumah, dengan air mata bahagia aku masih sempat bercanda dengan keluarga ku di kampung. Seperti ini kira kira pembicaraanku dengan ayahku di telpon
- Aku : Assalamualaikum, Pak. Maaf ya pak kayanya aku gak bisa pulang. Aku pengen disini aja, aku males mau pulang ke Lampung. Disini aku betah pak.
- Bapak : Loh, kenapa? Aneh-aneh aja kamu itu. Ngapain kamu disana, pulang!
- Aku : Ya gimana mau pulang pak, aku mau ngurus segala keperluan di kampus. Soalnya aku keterima di UNY.
- Bapak : *ntah kaget, ntah speechless, ntah apa pokoknya teridam. Alhamdullah nak, gak sia- sia perjuanganmu.
Dan aku, adalah satu-satunya siswa dari SMK tersebut yang berhasil masuk universitas di Yogyakarta, yang dijuluki sebagai Kota Pendidikan. Sendirian di kota ini kadang membuatku sedih :v
Sekarang aku sedang menjalani kuliah, bahasa kerennya masih maba, masih pemanasan dulu di tempat baru. Banyak mengenal orang-orang baru, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebenarnya apa yang ingin ku sampaikan pada perjalananku kali ini? Mungkin kata-kata yang sudah pasaran sih, yaitu jangan balas ejekan dengan amarah, namun buktikan dengan realita. Bayangkan apabila aku hancur saat daftar SMP? Dan bayangkan lagi apabila nanti aku kembali ke Lampung dan bertemu guru SMK yang sempat mengatakan aku takkan mampu masuk universitas negeri yang ada di Yogyakarta? Bully semacam ini kadang membuat seseorang menjadi lebih baik, ingin membuktikan. Dan dalam hidup pasti ada lika-liku, gak selalu mulus. Jangan terlalu menyerah dengan keadaan, keadaan itu kita sendiri yang menciptakan.
Iya memang kuliah tidak menjamin kesuksesan, tapi ada pula hal positif yang bisa kita ambil. Kakakku pernah berkata, "kuliah memang gak jamin sukses, gak jamin kamu kaya. Tapi kamu punya pengalaman, yang gak dimiliki orang-orang yang tidak kuliah. Kamu juga pasti kerja kan? Bayangkan ketika kamu reuni nanti, kamu bercerita tentang kerja, mereka akan nyambung karena kalian semua bekerja. Tapi ketika kamu bercerita tentang kuliah? Gak semua temenmu akan nyambung, pasti nanti akhirnya pembicaraan akan diarahkan lagi ke topik pekerjaan".
Salah satu pertimbanganku memilih kuliah karena pada tahun 2017, Badan Statistik menyatakan bahwa pengangguran lebih banyak di lulusan SMK dibanding lulusan SMA. Karena apa? SMK memang mencetak generasi siap kerja, namun sarana prasarana yang ada di sekolah masih belum memadai. Contoh, aku SMK jurusan Otomotif, praktik di sekolah lebih cenderung ke mesin yang masih konvensional, sedangkan tuntutan saat ini adalah pekerja yang menguasai sistem diatas konvensional seperti EFI, Hybrid, bahkan sekarang mulai dikembangkan lagi mobil listrik. Lantas apa yang terjadi pada lulusan SMK yang hanya sebatas mempelajari sistem konvensional? Ya nilai sendiri lah ya.
Meskipun ijazahmu nanti tak sesuai dengan apa pekerjaanmu, tapi setidaknya ijazahmu adalah nilai tambah untuk membuatmu lebih unggul dibandingkan dengan yang lain :)
Mungkin hanya singkat yang bisa aku ceritakan, ambil saja apa yang positif, aku hanya mencoba untuk menjadi orang yang sedikit bermanfaat bagi sekitar. Dan pesan untuk teman-teman, semangat terus untuk mencapai cita-cita. Keep moving forward, tapi jangan cuma maju datar, tapi maju dan meningkat.
Dan untuk kedua orang tuaku, ridhoi perjalananku. Takkan ku sia siakan kesempatan ini. Aku pasti pulang, dan membuat kalian tersenyum :)
Dan untuk teman-temanku yang di Lampung, jangan tunggu aku pulang. Mari kita kejar impian kita masing-masing. Yang kuliah, semangat kuliahnya. Yang kerja, semangat kerjanya. Ayo kita berjuang, aku berdoa dari kejauhan, kalian aja yang gak tau :v
Akhirul kata, aku sang Kreator Kotor, pamit undur diri. Tunggu artikelku selanjutnya ya :)

Mantap terus memotivasi jar👍
ReplyDeleteSiap mbak :v
ReplyDeletetumben wkwk
ReplyDeletetumben gimana nih :v
Delete